Pernah terbersit sebuah ide untuk membangun sebuah usaha warung angkringan. Warung yang biasa beroprasi di malam hari, dengan menu utama kopi, gorengan, nasi kucing, dan makanan kecil+minuman hangat lainnya.
Di kota kecil yang menjadi tanah kelahiran ini telah berdiri banyak sekali usaha serupa. Bahkan telah menjamur di setiap sudut gang. Lantas, apakah dengan menjamurnya pesaing usaha ini tetap memiliki prospek?
Tentu, karena setiap orang butuh tempat "leyeh-leyeh" (santai, red). Di tengah himpitan tugas dan masalah sehari-hari biasanya warung angkringan menjadi sebuah tempat yang asik meski hanya untuk menikmati secangkir kopi sepanjang malam dan mengobrol bersama teman atau kenalan baru.
Cuma ada sedikit hal yang ingin di geser, dari orientasi selama ini yang mana warung angkringan/warung kopi adalah milik kaum lelaki, kini harus bisa dinikmati bahkan digemari oleh para kaum hawa.
Itu sebuah PR yang harus segera ditemukan jawabannya.
Dan bagaimana menjadikan warung ini berbeda dari yang lain, dan menjadikannya lebih kental nuansa lokalnya. tanpa sengaja muncul ide dari status bbm teman.
"Banyuwangi kota kopai - Satu kali seduh kita bersaudara"
Tidak tahu apakah itu hasil pemikirannya atau telah menjadi tag line sebuah usaha di sini. Tapi yang jelas itu adalah ide cemerlang untuk menonjolkan nuansa lokal. Bukan hanya sekedar menggunakan nama oseng, tapi menggunakan bahasanya dalam memberikan pelayanan dan menyapa pelanggan.
Semoga konsep dasar ini, yang masih mentah ini, bisa segera terwujud menjadi usaha nyata yang dapat melayani dan memberikan tempat bersantai bagi warga banyuwangi. Amien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon komentar positifnya dari para pembaca untuk penyemangat kami dalam melayani. Terima kasih.