Jumat, 16 September 2011

Hilangkan Stres dengan Alunan Musik

Stres bisa menyerang kapan saja tanpa melihat waktu dan membuat seseorang sulit berpikir atau mungkin menjadi lupa. Kondisi ini karena stres yang muncul mempengaruhi pola berpikirnya. Stres yang timbul bisa mempengaruhi hampir seluruh tubuh mulai dari fisik, psikologis hingga pola pemikiran seseorang. Jika hal ini terus menerus terjadi maka bisa menimbulkan dampak yang lebih serius lagi.

Jika stres mulai menyerang dan mengganggu kemampuan berpikir, maka hal yang bisa dilakukan adalah istirahat sejenak untuk melakukan relaksasi yang bisa menenangkan kegelisahan dan membantu tubuh serta pikiran pulih kembali. Salah satu cara yang biasa saya lakukan adalah dengan mendengarkan musik. Karena sampai sekarang saya meyakini, cara terbaik untuk mempengaruhi mood adalah dengan alunan musik.

Menikmati album Natural Concentration ini, saya seperti hadir di alam yang hijau berembun, mendengar suara sungai mengalir, burung-burung kecil dengan suara yang cantik, ragam suara rendah-riuh di balik pepohonan, diiringi denting nada musik yang lembut, seperti mendengar tetes air yang jatuh di permukaan telaga yang tenang. Inilah Dan Gibson’s Solitude, mengajak kita lebih dekat dengan keindahan dan keagungan alam. Alunan musiknya yang tenang dan lembut membuat saya lebih mencintai alam, kerinduan akan alam yang hijau dan penuh keseimbangan, membantu saya dalam relaksasi. Inilah istrumental yang indah melekatkan kita pada suara alam dan burung-burung yang bernyanyi. Hm, musik ini membuat saya lebih konsentrasi. 

Bagi para sahabat yang ingin mencobanya, silahkan mengunduhnya. Tetapi ingat, jangan di gunakan untuk tujuan komersil ya? :)







*Penjelasan cara mengunduh silahkan klik disini.


Berikut ini adalah contoh streaming dari Sun Shower.



Selasa, 03 Mei 2011

Mengapa Harus Marah

Ada yang bilang, seseorang yang sukses sebenarnya memiliki sifat temperamental yang tinggi pula. Ia cenderung mudah marah. Contoh paling gampang adalah ketika kita melihat para bintang olahraga. Sebut saja pesepak bola David Bechkam yang sekarang sedang diperbincangkan karena akan kembali berlaga di Liga Inggris. Ia ternyata punya temperamen yang tinggi. Ia pernah dikartumerah dalam pertandingan penting Inggris akibat melanggar keras pemain lawan sehingga timnya gagal melangkah ke babak berikutnya.

Para ahli psikologi di sana menyebutkan, sikap Beckham seperti itu menunjukkan ada sisi negatif dari seorang jenius yaitu mudah marah. Tentu saja jika ia terus-menerus menuruti amarahnya, bukan sukses yang didapat tetapi justru kegagalan. Ternyata Beckham mampu mengendalikan amarahnya pada tahap-tahap berikutnya. Ketika ia tak terpilih masuk tim Inggris beberapa waktu lalu, ia tak marah. Ia justru menemukan pelampiasan lain dengan menjadi bagian tim di Piala Dunia 2010 semacam sebagai motivator bagi rekan-rekannya, posisi yang belum pernah ada di tim manapun. Dan karena kemampuan mengendalikan amarahnya itu sampai kini ia masih bisa berprestasi dalam usia yang tak muda lagi bagi seorang pesepak bola.

Saya menemukan hasil penelitian menarik yang dipublikasikan beberapa bulan lalu. Penyebab orang marah sebenarnya bukan karena ia ingin mengancam orang lain. Kemarahan timbul justru karena ia ingin berprestasi. Karena jalan untuk meraih prestasinya terhambat baik oleh orang lain maupun dirinya sendiri maka timbullah kemarahan itu.

Dari sini bisa dilihat bahwa orang yang punya ambisi besar untuk meraih sukses, menyimpan amarah yang besar pula karena hambatan demi hambatan yang dihadapinya pasti akan memicu amahnya. Sifat marah ini ibarat mesin dalam suatu mobil. Mobil berkapasitas tinggi akan membuat mobil memiliki kemampuan luar biasa jika dikendalikan dengan baik. Tetapi jika pengendaliannya tidak hati-hati, justru akan mengancam si pengendaranya sendiri.


Sahabat Inspirasi yang Luar Biasa!

Tentu kita semua pernah marah baik pada diri sendiri, keluarga, teman, atasan, dan sebagainya. Marah memang sifat negatif, tetapi, seperti saya kemukakan pada talkshow di jaringan Radio Sonora tadi pagi, jika kita bisa mengendalikannya dan memikirkan kenapa kita marah, kita akan menemukan hal positif. Kita akan tahu bahwa bukan untuk marah kita berada dalam posisi kita sekarang. Dengan demikian kita akan lebih toleran, lebih mensyukuri apa yang kita dapat, dan tentunya kita tak perlu kehilangan pertalian keluarga dan pertemanan.

Salam sukses luar biasa!!

Bai Fang Li: Memberi dalam Kekurangan

Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.

Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Dipojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya” jawab anak itu.
“Orang tuamu dimana?” tanya Bai Fang Li.
“Saya tidak tahu, ayah ibu saya pemulung. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu.

Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu Rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis.

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan.
Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesarRMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta Rupiah jika tidak salah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.


Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan “Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa.”

Selasa, 12 April 2011

Menang Atas Kebencian

SamGunawanby : Samuel Rudi Gunawan.


(Sudah pernah dimuat sebelumnya di fb – bulan April 2009 dari akun lama a/n Samuel Gunawan)

Sebagai 'penyegar' perkenankan saya memuatnya lagi untuk Sahabat-Sahabat sekalian ; semoga tetap menghibur dan Selamat Berakhirpekan! Thanks.


 


* Ada sebuah kalimat yang sempat mengusik diri saya, menarik perhatian saya dan meminta saya untuk menelitinya. Kalimat itu berbunyi :‘Cinta kasih membuat seseorang mampu memandang musuh sebagai obyek yang membutuhkan pengampunan dan kesabaran hatinya’.  Kalimat ini mungkin indah kedengarannya bagi sebagian orang akan tetapi sungguh amat sulit kalau kita harus melakukannya, apakah itu dengan hati yang sabar apalagi kalau harus mengampuni ?  Tapi sebenarnya, disinilah letak tantangannya – khususnya bagi kita yang mengaku sebagai orang yang baik, benar dan tidak bercela. Seiring dengan berjalannya waktu, cinta kasih yang diberikan dengan tulus akan melunakkan hati yang keras, seperti air yang meniris dan mengikis batu kali yang besar.


* Dikisahkan ada seorang kakek tua yang penyabar, yang selalu rajin menyapa orang yang lewat didepannya sambil tersenyum, yang dengan ramah dan hangat akan menjabat tangan orang lain dengan erat, walaupun ia berjalan agak pincang setelah mengalami pasca stroke ringan. Kakek tua ini diberi pekerjaan berkala untuk membersihkan kebun oleh sebuah yayasan panti-wredha, Belakangan ini di dekat lokasi panti-wredha seringkali banyak anak-anak muda yang kurang jelas asal usul dan pekerjaannya sering berkumpul dekat situ.


* Kehadiran geng anak-anak muda ini mengganggu lingkungan sekitar, termasuk kakek yang sedang bekerja mengurus dan membersihkan kebun. Kakek tua inipun tidak luput dari tindakan pemerasan yang dilakukan beberapa kali dalam kurun suatu waktu terhadap dirinya. Pada awalnya sang kakek harus merelakan jam tangan, dan telepon seluler bekas pemberian putrinya serta sejumlah uang. Pada saat itu suasana tempat kejadian sedang sepi sehingga kepala geng anak muda tersebut leluasa melakukan perbuatan itu. Sang kakekpun tidak luput dari penganiayaan dan luka ringan, tubuh tua rentanya didorong sampai jatuh ketanah yang becek bekas siraman air untuk menyiram kebun. Selang beberapa waktu, beberapa kejadian kecil tetap menimpa sang kakek, tapi semuanya dihadapi dengan sabar, tabah dan senyum, meskipun mereka selalu menertawakan kesabaran sikakek tua. Sang kakek tidak pernah dan tidak mau mengadu kepada siapapun termasuk kepada pengurus yayasan panti maupun polisi.


* Dengan tekun ia sujud berdoa kepada Tuhan, setiap pagi terutama saat ingin berangkat ketempat kerja supaya diberi kesabaran, ketabahan, dan pengertian, dan yang paling ia doakan adalah supaya Tuhan mau mengampuni orang lain yang bersalah kepadanya dan supaya mereka menyadari serta kembali kejalan yang benar, menjadi anak-anak muda penerus harapan bangsa.


* Ketika suatu hari disaat kakek tua sedang melakukan pekerjaannya dikebun tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh kehadiran kepala geng yang sering memeras dan menganiayanya. Yang sangat mengejutkannya kali ini adalah anak muda tersebut berkata dengan lemah lembut dan sopan, tidak seperti biasanya dengan kasar dan membentak-bentak.  ‘Jangan kuatir kakek tua, saya bukan ingin mengerjai kamu’, demikian kata anak muda kepala geng itu perlahan dan lembut sambil menyerahkan sebuah bungkusan kantong plastik kumal. ‘Apa ini ?’ tanya sang kakek. Dengan wajah tertunduk kepala geng anak muda itu menjawab :‘Itu barang-barang kakek, semuanya saya kembalikan, semuanya utuh – tidak ada yang kurang – juga uangnya kakek’, Si kakek terheran-heran :‘sungguh saya tidak mengerti mengapa kamu bisa begitu baik dan berubah terhadap saya ?’  Anak muda kepala geng itu menjawab :‘Akhir-akhir ini saya mengalami perang bathin karena ada dua dorongan bathin yang sama kuat dalam diri saya. Segera setelah saya sadar telah salah jalan, saya putuskan untuk memutar haluan kembali ke jalan yang benar. Terus terang kek, perasaan berdosa itu terus mengganggu pikiran saya. Saya banyak belajar dari kakek ; sekarang ini saya mau minta maaf atas segala perbuatan saya karena telah melukai orang yang sudah tua seperti kakek ini. Tidak sepantasnya saya melakukan itu. Yang membuat saya dan teman-teman heran dan tidak habis pikir adalah kakek tidak melawan atau memaki kami. Mengapa setiap kali kami mengganggu, kakek diam saja bahkan tetap berkata lembut kepada kami ? Kakek tidak membenci kami meskipun kami membencimu. Kakek tetap menunjukkan kasih terhadap kebencian kami.  Jujur saja, saya seringkali tidak bisa tidur setelah kami mengambil barang-barangmu, jadi sekarang saya putuskan untuk mengembalikan barang-barang kakek itu’.


* Kesabaran kakek tua tadi membuahkan pertobatan dihati kepala geng anak-anak muda itu. ‘Kasih selalu menang atas kejahatan dan kebencian’.  Biarlah kata-kata dan perbuatan bijak penuh kasih ini boleh mendorong kita untuk terus mengasihi tanpa batas.Cinta kasih adalah satu-satunya kekuatan yang mampu mengubah musuh menjadi sahabat’. Saat ini dunia membutuhkan lebih banyak hati yang hangat.


Demikian Sahabatku yang baik, sampai berjumpa lagi dalam Artikel Lepas yang berikutnya. Salam Pemenang !

Kasih Sejati dari Seorang Suami


Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah sudah lebih 32 tahun.


Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.


Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.


Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.


Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.


Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.


Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.


Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.


Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.”Anak2ku ……… Jikalau perkimpoian & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah….. .tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini.


Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”


Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno.. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.


“Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkimpoiannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”


Sumber dari sini.

Jumat, 01 April 2011

Asal-usul Kejahatan

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".


Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".


"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.


Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan".


Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Agama itu adalah sebuah mitos.


Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".


"Tentu saja," jawab si Profesor,


Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.


Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."


Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"


Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."


Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."


Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"


Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya.
Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."


Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya." Profesor itu terdiam.


Nama mahasiswa itu adalah



Albert Einstein


Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan".

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".

"Tentu saja," jawab si Profesor,

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya.
Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya." Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein

Senin, 14 Maret 2011

THE MAN WHO CAN TALK TO FIRE - and his friend, Jurgen.

Mario Teguh Super Note - THE MAN WHO CAN TALK TO FIRE - and his friend, Jurgen.


Oleh: Mario Teguh



Saat saya kuliah di Indiana University untuk mendapatkan MBA dalam business management, saya pergi ke sebuah tempat camping dan peristirahatan di White Water, di negara bagian Wisconsin, bersama belasan rekan sesama mahasiswa yang berasal dari berbagai bidang studi.


Ada seorang rekan mahasiswa S3 dari Jerman yang belajar Quantum Physics. Dia seorang ilmuwan yang super cerdas dan setia kepada logika yang akurat.


Suatu ketika dia melihat saya sembahyang Maghrib. Dia menunggu saya selesai, dan langsung mengatakan: Mario, I never knew that you were primitive. Saya tidak pernah menduga bahwa kamu masih primitif.


Mengapa?, tanya saya.


Dan dia menjelaskan bahwa orang-orang primitif di jaman dulu juga berdoa seperti saya.


Apakah dengan primitif, berarti saya salah?, terus saya.


Dia kemudian menjelaskan dengan logikanya, bahwa perilaku berdoa kepada sesuatu yang tidak ada untuk mengharapkan keajaiban, adalah perilaku orang-orang primitif, yang tidak mampu berpikir dengan logika yang jernih, dan yang tidak berilmu.


Lalu, dengan sikap yang menghormati kekuatan logikanya, saya bertanya: Apa yang membuatmu demikian yakin bahwa Tuhan tidak ada?


Dia menjawab dengan cool; Tuhan tidak ada, karena Tuhan tidak bisa dideteksi dan diukur. Jika kita bisa mendeteksi dan mengukur keberadaan fisik Tuhan, maka kita bukan hanya yakin – tetapi bahkan TAHU bahwa Tuhan ada.


Emmm … saya membiarkan beberapa jenak berlalu dengan santun, sebelum saya membuka langkah pengujian saya terhadap logika rekan saya ini;


Jurgen, demikian namanya, jadi kamu akan menerima keberadaan sesuatu yang bisa dideteksi dan diukur, dan jika tidak - maka kamu menolak keberadaannya, bukankah begitu?


Of course!, dengan gaya bijak yang mungkin ditirunya dari salah satu profesornya.


Lalu saya teruskan, apakah ada hal-hal yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya, karena belum ada alat deteksi dan alat ukur-nya?


Dia menjawab cepat; Oh pasti!, tentu saja banyak materi di alam ini yang belum kita ketahui, karena kita belum memiliki alat untuk mendeteksi dan mengukurnya, Mario. And that’s a simple logic!, dia melihat saya dengan wajah seorang guru yang kasihan kepada muridnya yang lambat mengerti.


Oooh … (saya memulai penerbangan ke Nagasaki dengan sebuah bom atom di perut pesawat pembom saya) …


Jadi sebagai seorang ilmuwan, Jurgen tidak akan dengan semena-mena mengatakan sesuatu itu tidak ada, jika ia tidak bisa dideteksi dan diukur karena alat untuk itu belum ada?


Ya pasti dong?! Itu khan bertentangan dengan logika dan obyektifitas saya sebagai seorang pemikir yang logis.


Lalu, dengan suara selembut mungkin dari wajah yang sepengasih mungkin, saya bertanya;


Jurgen, apakah alat untuk mendeteksi dan mengukur Tuhan sudah ada?


Dia bilang dengan santai; … belum …


Saya teruskan; … lalu, jika alatnya belum ada, jika alat untuk mendeteksi dan mengukur Tuhan itu belum ada, mengapakah Jurgen bisa dengan pasti mengatakan bahwa Tuhan tidak ada?


Dia terdiam sejenak, lalu dia berbicara dengan kelurusan dan ketegasan seorang ilmuwan;


Kamu betul, Mar. Tidak obyektif bagi saya untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, karena kita belum memiliki alat untuk mendeteksi dan mengukur Tuhan.


Jadi apa sikap terbaikmu mengenai hal ini, Jurgen?


Sikap terbaik saya adalah menunda keputusan apakah Tuhan itu ada atau tidak.


Apakah sikap itu sebanding dengan ragu-ragu, karena belum pasti?, tanya saya hati-hati.


Dia bilang, dengan sangat fair: Ya.


Lalu saya sampaikan dengan keramahan yang harus dihadiahkan oleh seorang beriman kepada saudaranya yang sedang menemukan keimanan;


Jurgen, selamat datang. Bagi seseorang yang tadinya menolak keberadaan Tuhan, ‘meragukan keberadaan Tuhan’ adalah langkah awal untuk meyakini keberadaan-Nya.


Dari sanalah, kamu akan menemukan logika keimanan yang jauh lebih utuh dalam ke-abstrakan-nya, akurat dalam keluwesannya, dan tegas dalam kenyataan hukumnya.


Dia hanya mengangguk.


Lalu kami bergabung dengan belasan rekan mahasiswa dari kampus saya di Indiana University – Bloomington, yang juga berasal dari berbagai negara dan keimanan.


Kami makan malam dengan kemeriahan dan kegaduhan para lelaki muda yang positif dan berpandangan besar dan kuat mengenai masa depan.


Malam itu saya ditugasi untuk menyalakan api unggun, dan menjaga agar nyalanya tetap besar dan menghangatkan kami di malam musim dingin itu.


Di setiap kesempatan camping, saya selalu menjadi petugas api unggun, karena menurut mereka saya bisa berbicara kepada api. The man who can talk to fire. :)


Saat suasana lengang karena kami semua sudah berbaring untuk beristirahat di dini hari itu, saya mendengar suara seseorang yang seperti sedang terserang masuk angin yang akut.


Itu Jurgen. Dia masuk angin.


Saat bangun pagi, saya hampiri dia dan saya tanyakan kabarnya di pagi bersalju yang bersih dan indah itu, dan dia berkata;


I was really sick last night, Mario. Not because of anything, but because I was trying to accept your reasoning on God as objectively as I could. Rearranging what you have been believing as true for years, is not easy. But I did it. Thank you.


And you were and are right, that I should hold my judgment about God’s existence. I cannot rule that he is non existent, as long as I cannot disprove his existence.


Saya sangat sakit tadi malam, Mario. Bukan karena apa-apa. Tetapi karena saya berusaha menerima alasanmu mengenai Tuhan dengan se-obyektif mungkin. Menata ulang apa yang telah kau yakini sebagai yang benar selama bertahun-tahun, bukanlah sesuatu yang mudah. Tetapi saya telah melakukannya. Terima kasih.


Dan kamu benar, bahwa saya harus menahan untuk tidak membuat kesimpulan apa pun mengenai keberadaan Tuhan. Saya tidak dapat memutuskan bahwa Tuhan itu tidak ada, selama saya tidak bisa membatalkan keberadaannya.


Saya menyalaminya dengan hati yang sepengasih mungkin.


Jurgen, welcome to faith. Selamat datang di keimanan.



………..


Dan tiga puluh tahun kemudian, di Minggu pagi di Jakarta, saya menuliskan Super Note ini karena tadi pagi saya membaca sebuah comment di MTFB yang mengindikasikan keraguan seorang sahabat mengenai peran Tuhan bagi kebaikan hati dan hidupnya.


Saya menunda hal lain yang tadinya ingin saya kerjakan di Minggu pagi yang indah ini, dan mendahulukan waktu untuk menuliskan cerita ini, dengan harapan bahwa Tuhan mempertemukan pengertian di dalamnya, dengan sahabat-sahabat saya yang sedang membutuhkan penguatan mengenai kedekatannya dengan Tuhan.


Mudah-mudahan Tuhan menjadikan hati kita semua, seutuhnya ikhlas menerima kemutlakan kasih sayang dan kekuasaan-Nya bagi kebaikan hidup kita, dan menurunkan jawaban bagi doa dan harapan yang telah lama kita naikkan ke langit bagi perhatian baik Tuhan.


Marilah kita menggunakan kehebatan dari kasih sayang kita kepada Tuhan, untuk menjadikan diri kita pelayan bagi kebaikan hidup sesama.


Mohon disampaikan salam sayang untuk keluarga Anda terkasih, dari Ibu Linna dan saya.


Sampai kita bertemu suatu ketika nanti ya?



Loving you all as always,


Mario Teguh
Founder | MTSuperClub | 081-211-56900 | For The Happiness Of Others | Jakarta





Mario Teguh Super Note - THE MAN WHO CAN TALK TO FIRE - and his friend, Jurgen.


Sabtu, 05 Maret 2011

ARTI PERSAHABATAN BAGIKU

Persahabatan itu... Hal terindah yang pernah aku miliki.


Persahabatan itu... Hal yang merubah seluruh hidupku.


Persahabatan itu... Hal yang akan kukenang sepanjang hidupku.


Persahabatan itu... Hal yang tidak akan mati oleh waktu.


Persahabatan itu kudapatkan darimu, seseorang yang memberitahuku bagaimana itu cinta, bagaimana itu kasih...


Membawakan sejuta cerita indah yang tidak akan pernah terlupakan. Sekaligus membawakan cerita memilukan yang akan selalu menguatkan.


Mungkin tidak pernah kamu sadari, cara seorang rajawali melatih anaknya terbang, seperti itulah kamu menguatkanku. Memaksaku untuk selalu bertahan disaat yang paling memilukan. Memaksaku menahan air mataku meski mata telah tak sanggup menahan.


Kamu bukan orang terbaik yang aku kenal, tapi kamu sahabat terbaik hadiah dari Tuhan.


Tawa mu, tangis mu, perkataanmu, dan tulisan tanganmu, masih tetap menguatkan aku sampai saat ini.


Terima kasih telah menjadi sahabat terbaik untukku, dan terima kasih telah menanamkan sebuah impian dalam hatiku. Impian untuk selalu menjadi anak kebanggaan Tuhan.


__


di dedikasikan untuk semua orang yang selalu mengajarkan ku arti kasih.


"seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran."(Ams 17:17)

Minggu, 13 Februari 2011

Kegagalan by AW

Suara: Andrie Wongso


Saat mengalami kegagalan, bukan berarti kita harus menyerah/putus asa. Justru kita harus introspeksi diri & berikhtiar lebih keras lagi!


Audio motivasi ini dipersembahkan oleh: Andrie Wongso's Multimedia Motivation Quote.







*Apabila video tidak dapat ditampilkan, coba perbarui flash player Anda di sini. Atau silahkan laporkan kesalahan di sini.


(Sementara di dukung oleh youtube, Streaming audio masih dalam tahap percobaan)

Rabu, 19 Januari 2011

Harga Sebuah Keajaiban

Sally berumur 8 tahun ketika dia mendengar orangtuanya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi yang menderita sakit parah… Hanya operasi yang sangat mahal bisa menyelamatkannya, tapi mereka tak punya biaya.

Sally mendengar ayahnya berkata, “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya”

Sally mengambil celengan dari tempat persembunyiannya, lalu dikeluarkannya semua isi celengan ke lantai dan menghitung semua uangnya.

Dengan membawa uang, Sally menyelinap keluar dan pergi ke apotik.

“Apa yg kamu perlukan?” tanya apoteker.

“Saya mau bicara mengenai adikku, dia sakit dan saya mau membeli keajaiban”, jawab Sally.


“Apa yang kamu katakan?”

“Ayahku mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya. Jadi berapa harganya?”

“Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil”

“Saya punya uang. Katakan saja berapa harga keajaiban?”

Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, “Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?”

“Saya tak tahu”, jawab Sally

Air mata mulai menetes di pipinya.

“Saya hanya tau dia sakit parah dan ayah mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Orangtuaku tak mampu membayarnya, tapi saya punya uang”

“Berapa uang yang kamu punya?”

“Satu dollar dan sebelas sen,” jawab Sally dgn bangga

“Kebetulan sekali,” kata pria itu sambil tersenyum, “Satu dollar dan sebelas sen, Harga yg tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu”

Dia mengambil uang, kemudian memegang tangan Sally dan berkata:
“Bawa saya kepada adikmu, saya mau bertemu dengannya dan orangtuamu”

Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal.

Operasi dilakukannya tanpa biaya dan butuh waktu yang tak lama. Georgi kembali ke rumah dalam keadaan sehat.

Orang tuanya sangat bahagia. Sally tersenyum… Dia tau pasti berapa harga keajaiban tersebut,
‘Satu dollar dan sebelas sen’, ditambah dengan keyakinan.

Sumber dari sini

---------------------------------------------

Sahabat inspirasi yang luar biasa,

Dalam hidup ini terkadang kita mengalami suatu permasalah yang sangat berat. Dan tidak jarang kita mulai mempertanyakan, "apakah benar Tuhan menyayangiku? Dimana keajaibanNya? Mengapa Ia tak kunjung menolongku?"

Tuhan itu ada, dan Dia sangat menyayangi kita dan keajaibanNya pun nyata. Terkadang Tuhan memang seolah-olah membiarkan kita "berjalan" seorang diri, tapi itu bukan untuk menghukum kita, tapi karena Dia ingin kita mendekatkan diri padaNya.

Milikilah keyakinan penuh pada Tuhan, ikhlaskan diri untuk menerima rencanaNya. Itulah yang namanya iman. Iman menjauhkan kekuatiran dan kegelisahan, ia membuat pemiliknya menikmati ketenangan walau tak ada alasan untuk tetap tenang.

Jadi, jika pencobaan datang dan menghantam hidup kita hingga kita bertekuk lutut, sadarilah bahwa itu adalah posisi yang paling tepat untuk berdoa dan bertobat. Keep your faith!



Share and be happy!

if you like it, you can share it.

Dengan berbagi kita akan hepi. :)

Sabtu, 08 Januari 2011

Rumput Tetangga

“Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau.”


 


Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu menginginkan hal yang belum dimilikinya, dan bahkan ada sebagian yang sampai terjebak dalam perasaan iri. “kenapa aku tidak setampan dia?”, “kenapa aku tidak sekaya dia?”, dan lainnya. Seperti perumpamaan di atas, sehijau-hijaunya rumput yang ada dihalaman kita, tetapi selalu saja ada yang mengatakan bahwa rumput milik tetangga lebih hijau dari miliknya.


Seperti sebuah rumput yang memiliki begitu banyak varian dan menyebabkan perbedaan warna, seharusnya kita juga harus selalu menyadari bahwa anugrah yang dimiliki setiap orang pun berbeda. Dan pada saat variannya sama pun, ada berbagai faktor yang membuat “hijau” nya berbeda, kesuburan tanah, pupuk yang digunakan, sampai cara perawatan. Karena itu, ayo kita belajar untuk bersyukur atas segala sesuatu yang telah menjadi milik kita, meskipun hasil yang diperoleh tidak sebaik “tetangga” kita, tidak perlu iri. Jadikan itu sebagai pelajaran, mungkin “tetangga” kita telah berusaha lebih keras, mereka selalu belajar, dan juga mereka memiliki cara tersendiri dalam menggunakan anugrah yang ada.


Jadi, saat kita mulai merasa bahwa “rumput tetangga tampak lebih hijau”, jadikan itu sebagai alarm periksa kembali “taman” kita, mungkin kita belum merawat dan mengelolanya dengan maksimal.


Sahabat inspirasi yang luar biasa,


Jangan pernah jadikan perbedaan kita dengan yang lain sebagai alasan untuk iri hati. Mari kita bersyukur atas segala sesuatu yang telah kita terima, kita jadikan perbedaan itu sebagai bahan pembelajaran untuk menjadi lebih baik. Dan jangan pernah dilupakan bahwa “rumput tetangga” meskipun tampak baik, tetapi belum tentu dapat tumbuh subur bila ditanam di halaman kita. “Rumput tetangga” terkadang tampak lebih hijau, tapi “rumput kita” tetaplah “rumput” yang terbaik untuk kita. Karena Tuhan telah menyediakan porsi yang berbeda-beda untuk seluruh umatNya. Tetaplah bersemangat, teruslah belajar agar yang baik menjadi lebih baik, dan yang lebih baik menjadi yang terbaik. GET IT!!!


 


Share and be happy!


Teruslah berbagi, karena dengan berbagi kita akan hepi. :)


 

Jumat, 07 Januari 2011

Berani Mimpi, Berani Sukses

Penulis: Andrie Wongso


Selasa, 04-Januari-2011


Awal tahun sering dianggap momentum yang tepat untuk memulai hidup baru. Tahun lalu mungkin tak banyak prestasi yang bisa kita raih, tahun ini adalah saat terbaik untuk memperbaikinya. Tahun lalu mungkin kita gagal meraih cita-cita yang kita impikan, tahun ini adalah waktu yang tepat untuk lebih memfokuskan segala kemampuan dan bekerja lebih keras lagi agar impian itu bisa terwujud.


Setinggi apa mimpi-mimpi bisa kita pancangkan? Banyak di antara kita yang bermimpi saja tak berani karena takut kecewa jika kelak tak bisa meraihnya. Akhirnya mimpinya biasa-biasa saja. Atau banyak juga yang hanya bermimpi tanpa berusaha meraihnya. Akhirnya mimpi-mimpi itu hanya berhenti sampai pada mimpi saja.


Jika kita melihat ke belakang, kita akan menemukan betapa berharganya mimpi-mimpi itu. Apa yang kita nikmati saat ini seperti telepon genggam, komputer, kendaraan yang kita gunakan, dan apa pun yang kita rasakan manfaatnya dan kita kagumi, semua itu awalnya dari mimpi. Para penciptanya kerap diolok-olok orang-orang sekitarnya karena impian mereka dianggap hayalan yang tak mungkin bisa diwujudkan.


Meski begitu mereka tetap yakin bahwa mimpi-mimpi itu bukan sesuatu yang mustahil. Ejekan-ejekan yang diterimanya justru menjadi semacam vitamin kehidupan yang mendorong semangatnya untuk terus berusaha. Mereka tak patah semangat untuk mencoba dan mencoba lagi, kegagalan demi kegagalan tak menyurutkan semangatnya untuk mencoba lagi, dan akhirnya ketekunan mereka berhasil mewujudkan impiannya. Itulah kekuatan mimpi!


 


Teman-teman yang Luar Biasa!


Pagi tadi pada talkshow rutin di jaringan Radio Sonora, saya membahas tentang "Kekuatan Mimpi". Mimpi adalah jalan menuju kesuksesan. Karena impian kehidupan bisa kita ubah menjadi lebih berkualitas. Tentu, untuk merealisasikan setiap impian ini, kita membutuhkan kekuatan lain. Kekuatan itu harus ditumbuhkembangkan dari dalam diri kita sendiri yaitu berani bermimpi, berani mencoba, berani mati-matian, berani gagal, dan berani sukses. Nah, teman-teman, mimpi apa yang ingin diraih tahun ini? Mari bekerja keras untuk mewujudkannya.


Oh ya, teman-teman, mulai minggu depan siaran talkshow saya di Radio Sonora akan berubah jadwalnya. Jika sebelumnya tiap Selasa pagi pukul 07.00-08.00 WIB, mulai minggu depan menjadi setiap hari Senin pukul 07.00-08.00 WIB.


Oke? Sampai jumpa Senin, 10 Januari 2011, pada Talkshow Success Wisdom & Motivation di jaringan Radio Sonora jam 07.00-08.00 WIB. Salam Sukses, Luar Biasa!!


 


Artikel asli:


dari sini

Minggu, 02 Januari 2011

Tak Ada Gading Yang Tak Retak


“Tak ada gading yang tak retak.”



Sebuah peribahasa yang sangat populer saat saya masih SD, sebuah peribahasa yang menggambarkan bahwa tak ada manusia yang sempurna. Ketika SD saya sangat suka sekali menggunakan peribahasa ini sebagai slogan, dan sampai saat ini pun saya tetap menyukai peribahasa ini.


Tetapi sayang, peribahasa ini kadang digunakan sebagai pembenar kesalahan-kesalahan kita. Setiap kali ada yang berbuat salah, mereka selalu berdalih:




“Tidak ada manusia yang sempurna. Jadi sesekali salah tidak apa-apa.”



atau




“Kita kan bukan Tuhan, jadi wajar jika kita tidak sempurna dan berbuat salah.”



Ya, mereka benar. Kita hanyalah manusia. Tidak ada, dan tidak akan pernah ada manusia yang sempurna apalagi sempurna seperti Tuhan.


Tapi ingat, sebuah gading retak pun, ditangan seorang ahli dan setelah mengalami berbagai macam proses, dapat menjadi sesuatu yang indah dan bernilai tinggi. Begitu juga dengan kita. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi dalam hidup ini, kita harus berusaha menjadi sempurna dan bernilai tinggi. Percayakan hidup kita pada Seorang Ahli, Tuhan. Kerjakan yang menjadi bagian kita, dan biarkan Tuhan mengerjakan bagianNya.


 


Sahabat inspirasi yang luar biasa,


Apapun kesalahan kita, apapun kelemahan kita saat ini, semuanya tidak akan menghalangi kita untuk menjadi lebih baik jika kita tulus menginginkannya. Teruslah berusaha, karena jika kita tidak berusaha menjadi yang terbaik, lalu kita akan menjadi apa?


Jadilah yang terbaik, kita berhak untuk menjadi yang terbaik.


 


Salam,


D. Hendriyanto.

Menjadi Luar Biasa!

Setiap orang dapat menjadi luar biasa, karena sesungguhnya kita semua adalah LUAR BIASA, kita sendirilah yang membuat diri kita menjadi biasa.

Menjadi luar biasa bukan berarti kita harus selalu mendapatkan pengalaman yang luar biasa (luar biasa menderita, luar biasa menakjubkan, dll), menjadi luar biasa juga bukan berarti kita harus melakukan hal yang luar biasa.

Perasaan luar biasa dapat kita miliki saat kita mampu menyikapi seluruh pengalaman hidup kita dengan sikap yang luar biasa, sikap yang mau terus belajar dan selalu mengambil makna positif dari setiap peristiwa. Menjadi luar biasa juga dapat kita lakukan dengan melakukan hal-hal yang biasa dengan cara yang luar biasa.

Jadilah orang-orang yang luar biasa dari sekarang. Banyak orang merasa tidak puas karena mereka merasa harus melakukan sesuatu yang besar (contoh: kebaikan besar, sukses yang besar) untuk menjadi luar biasa. Hentikan perasaan itu, hal itu hanya akan membuat kita terbebani.



Bebaskan dirimu! Jangan pernah mengabaikan hal-hal kecil, karena semua hal besar selalu dimulai dari sebuah hal kecil yang terkadang tidak pernah diperhatikan oleh orang lain.


Jangan pernah mengabaikan kesempatan untuk berbuat kebaikan kecil, karena mengabaikan kesempatan untuk berbuat baik, sekecil apapun, itu adalah sebuah kejahatan.



ayo kita belajar bersama untuk menjadi orang yang luar biasa.



Kita semua adalah LUAR BIASA, diri kita sendiri-lah yang membuat jadi BIASA. Jangan mau jadi BIASA karena kita LUAR BIASA!




Salam,

Sabtu, 01 Januari 2011

Batu Penghalang

Alkisah, seorang raja yang pandai dan bijak bermaksud menguji kerajinan dan kepedulian rakyatnya dengan cara yang unik. Pada suatu sore, sang raja diam-diam meletakkan sebongkah batu di tengah jalan yang sering dilewati orang. Letak batu itu persis di tengah jalan sehingga tidak enak dipandang dan menghalang-halangi langkah orang. Rupanya, sang raja sengaja ingin mengetahui apa reaksi rakyatnya yang lalu-lalang di jalan tadi.



Tampak seorang petani melintas sambil membawa gerobak barang yang tampak berat karena penuh dengan barang bawaan. Ketika ia melihat sebongkah batu menghalangi jalannya, ia langsung mengomel. "Dasar orang-orang di sini malas-malas. Batu di tengah jalan didiamkan saja..!" Sambil terus menggerutu, ia membelokkan gerobaknya menghindari batu tadi dan meneruskan perjalanannya.



Setelah itu, lewatlah seorang prajurit sambil bersenandung mengenang keberaniannya di medan perang. Karena jalan kurang hati-hati, si prajurit tersandung batu penghalang dan hampir tersungkur. "Aduuuh...! Kenapa orang-orang yang lewat jalan ini tidak mau menyingkirkan batu ini...hah!" teriak si prajurit marah-marah, sambil mengacung-acungkan pedangnya. Sekalipun mengeluh dan marah-marah, prajurit itu tidak mengambil tindakan apa pun. Sebaliknya, ia melangkahi batu tersebut dan berlalu begitu saja.



Tidak lama kemudian, seorang pemuda miskin berjalan melewati jalan itu. Ketika melihat batu penghalang tadi, dia berkata dalam hati, "Hari sudah mulai gelap. Bila orang melintas di jalan ini dan tidak berhati-hati, pasti akan tersandung. Batu ini bisa mencelakai orang." Walaupun letih karena telah bekerja keras seharian, pemuda ini masih mau bersusah payah memindahkan batu penghalang ke pinggir jalan.



Setelah batu berhasil dipindahkan, pemuda itu terkejut melihat sebuah benda tertanam di bawah batu yang dipindahkannya. Disitu terdapat sebuah kotak dan sepucuk surat, yang isinya berbunyi, "Untuk rakyatku yang rela memindahkan batu penghalang ini. Karena engkau telah menunjukkan kerajinan dan kepedulianmu kepada orang lain, maka terimalah lima keping emas yang ada dalam kotak ini sebagai hadiah dari rajamu."



Pemuda miskin itu langsung bersyukur dan memuji kedermawanan rajanya. Dan peristiwa itu pun menggemparkan seluruh negeri. Raja telah berhasil mengajarkan arti pentingnya nilai kerajinan dan kepedulian terhadap sesama, serta keberanian dalam menghadapi rintangan.




Netter yang luar biasa!!



Dalam aktivitas menjalani kehidupan ini, kita pasti pernah mengalami hadangan seperti 'batu penghalang' seperti cerita di atas. Setiap batu penghalang bisa diartikan sebagai rintangan, kesulitan, beban, ataupun tanggung jawab yang ada di dalam kehidupan kita. Bila sikap kita menghadapi semua hal tersebut dengan perasaan tidak sabar, jengkel, marah, menghindar dan cenderung menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya, maka kita tidak akan pernah belajar banyak mengenai kehidupan. Karena sesungguhnya, dalam setiap kesulitan, selalu terdapat hikmah yang tersembunyi, dan pasti ada pelajaran yang mampu mematangkan dan mendewasakan mental kita.



Jelas kita butuh mentalitas seperti yang dipunyai si pemuda tadi yaitu berani menghadapi rintangan, tidak menyerah bila dilanda kesulitan, peduli terhadap sesama dan lingkungan, tidak cengeng dalam memikul beban, berani memanggul tanggung jawab yang besar. Jika mentalitas seperti ini yang kita punyai, saya yakin, kesempatan besar dan sangat menjanjikan tengah menyelinap di balik setiap batu penghalang yang menghadang proses perjuangan kita



Saat ini, mungkin ada persoalan sebagai batu penghalang yang menghambat kemajuan kita! Maka hanya ada satu jalan untuk menghadapinya, yaitu hancurkan setiap batu penghalang! Mari kita kuatkan mental dan kobarkan semangat juang dengan berani menghadapi setiap masalah, demi membangun kondisi yang lebih maju, lebih sukses, dan lebih berarti.


Salam sukses, luar biasa!!




_______________




Audio cerita ini bisa didapatkan di "CD Audio-Book 10 Wisdom & Success #1" by Andrie Wongso. Bagi teman-teman yang ingin mendengarkannya lagi, atau mengoleksinya, kunjungi�AW Success Shop�dan jaringan Toko Buku Gramedia. Atau, hubungi office di (021) 6339523.


 

Mengasah Kapak

Penulis : Andrie Wongso
Selasa, 28-Desember-2010

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, maka calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

Saat akan mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, ia berhasil merobohkan delapan batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus. "Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu selama ini. Teruskan bekerja seperti itu."

Karena sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi. Tetapi dia hanya berhasil merobohkan tujuh batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tapi hasilnya tetap tidak memuaskan, bahkan mengecewakan. Semakin bertambah hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan.

"Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?" pikir penebang pohon, merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap kepada sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, "Kapan terakhir kamu mengasah kapak?"

"Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu! Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga," kata si penebang.

"Nah, di sinilah masalahnya. Ingat hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil maksimal. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama, tetapi tidak diasah. Kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bisa bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang, mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!" perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mengucap terima kasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.


Netter yang Luar Biasa,

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, dan sibuk terus, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak, "mengasah" dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan spiritual.

Seperti pepatah yang mengatakan "istirahat bukan berarti berhenti, tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi," tentunya istirahat kita seharusnya menjadi istirahat yang berkualitas dan bukan untuk bermalas-malasan. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan dinamis!

Salam sukses, luar biasa!